RSS

Harga Diri

28 Mei

Pernahkah kita menyadari bahwa yang dimaksud dngn harga diri sesungguhnya adalah sikap menerima sesuatu yang tidak kita minta, karena sang Maha pemberi tahu betul bahwa kita tidak mampu memenuhi apa pun yang kita minta.
Cobalah kita lakukan sesuatu terhadap tubuh kita yang hitam, pendek, pesek, bibir tebal, apa yang terjadi?. pasti ketidakalamian yang berbahaya: pemutih yg merusak kulit, peninggi badan yg menyiksa, operasi plastik yang penug resik. Mengapa kita tidak mampu menolak hitam, menghindari pendek, mngelak pesek, berkelit dari bibir tebal?, pasti karena semua itu (hitam, pendek, pesek, bibir tebal) bukanlah pemberian yang kita minta , sebagaiman kulit putih, tinggi, mancung, bibir tipis bukanlah permintaan kita yang mampu kita penuhi sendiri,
So, tampil dengan sikap menerima pemberian sang Maha Pemberi yg mustahil kita penuhi sendiri adalah wujug Harga diri yang sesungguhnya, sebagaimana mengimpikan permintaan yg tidak mampu kita penuhi sendiri adalah cermin kebodohan yanfg hakiki. kita tampil dgn harga diri, akan meyakini dgn logika sederhana tentang penghinaan : jika pemilik kulit hitam, hidung pesek, bibir tebal adalah Sang Maha Pemberi, bukankah mencelanya berarti menghina Tuhan, Dia Sang Maha Pemberi itu? Lantas untuk apa kita mengambil alih untuk marah kalau pada hakikatnya kita bukanlah pemilik pemberian itu, yang tak berwenang sedikit pun untuk marah, kecewa, malu, hina??? kan bukan kita pembikin hitam, pendek, pencipta pesek, pembuat bibir tebal. bikankah dgn mersa terhinakan berarti kita telah berlaku seperti Tuhan, Sang Pencipta Pemberian itu? kalu kita berlaku seprti Tuhan, bukankah kita justru kita yg paling berdosa daipada orang yg menghina pemberian itu, yang harga dirinya berasal dari prinsip yg sama dgn kita?.
Nah, Harga Diri akan dgn sendirinya memposisikan kita sebagai orang penting, karena orang penting yang percaya kepada maksud dan tujuan pentingnya menerima pemberian Tuhan. Bukankah binatang saja merasa penting dgn apapun keadaan dirinya, yg dgn begitu dia bisa beperan sebagai fasilitas hidup manusia (dengan daging, telur, kulit dll-nya). Coba bayangkan andai hewan pun mersa terhina dngn pemberian Tuhan?…
(dikutip dari Majalah Annida).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 28, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: